MENGUPAS CUSTOM CULTURE SAMPAI KE TANAH AIR

PLATDR.MEDIA – Sebelum kita membahas panjang lebar mengnai “Custom Culture” pertama kita kupas dulu makna dari kata Custom. Custom secara harfiah berarti “menurut pesanan”. Maksudnya, barang-barang yang dibuat sesuai dengan keinginan pembelinya. Karena sesuai pesanan, sudah barang tentu produk tersebut bakal berbeda dengan yang dibuat massal.

Custom Cultrure adalah neologisme yang awalnya berkembang di Amerika Serikat untuk menggambarkan karya seni, kendaraan, gaya rambut, dan fashion orang-orang yang mengendarai dan membangun mobil dan motor yang telah dimodifikasi.

Budaya ini mulai berkembang pada era 1950-an dan semakin populer saat makin banyak yang tertarik memodifikasi kendaraan mereka, baik roda dua maupun empat, dalam gaya hot rods untuk membuatnya menjadi lebih bertenaga dan kencang.

Custom Culture ini lalu berkembang ke berbagai negara, tak terkecuali Indonesia.

Robert Williams, dalam buku Kustom Kulture (1993) menjelaskan kemunculan hot rods tidak terlepas dari apa yang terjadi di California selama Perang Dunia II. Keadaan PD II “memaksa” para ilmuwan dan engineering menciptakan teknologi-teknologi canggih.

Perusahaan seperti Douglas Aircraft misalnya, diminta untuk menyesuaikan produksi dengan kebutuhan perang yang salah satu kreasi mereka adalah B-17 Flying Fortress, pesawat pengebom. Dalam industri dadakan itu, banyak anak-anak remaja California terserap sebagai buruh. Mereka memproduksi beragam barang yang bahkan dalam beberapa tahun sebelumnya belum pernah ada. Ketika perang berakhir, mereka jadi orang-orang dengan pengetahuan dan keahlian teknis tinggi yang mampu melakukan banyak hal.

“Dengan memanfaatkan keahlian yang didapat dari pabrik pertahanan, beberapa pekerja kemudian secara ekstensif memulai memodifikasi kendaraan lama mereka untuk membuat sesuatu yang baru dan berbeda. Hasilnya, dengan memanfaatkan kemampuan teknis yang bisa meningkatkan kecepatan, performa, dan handling kendaraan, apa yang mereka lakukan menandai dimulainya tren modifikasi ala hot rods,” kata Williams.

Bagi John DeWitt, dalam buku Cool Cars, High Art: The Rise of Kustom Kulture (2001) Custom Culture tidak bisa dimaknai sebagia kustomisasi kendaraan semata, meski memang pada awalnya demikian. Custom Culture lebih dari itu. Menurutnya, apa yang membedakan antara Custom Culture dengan semua “car culture” lain yang muncul ketika itu adalah gairah untuk “mengubah, merancang ulang, dan akhirnya, ‘menemukan kembali’ mobil standar, mengubahnya menjadi sesuatu yang unik dan ekspresif.”

DeWitt menekankan, Custom Culture jauh melampaui sekadar menempel kendaraan keluaran pabrik dengan beragam aksesori aftermarket yang dibuat massal.

Custom Culture bahkan lebih luas ketimbang persoalan bagaimana memodifikasi kendaraan. Ini adalah persoalan identitas dan aktualisasi diri. Dalam buku yang sama, DeWitt mengatakan bahwa Custom Culture adalah ekspresi sempurna dari identitas baru anak-anak muda yang tumbuh pasca Perang Dunia II, bahkan memberikan jalan bagi mereka yang ingin keluar dari “zona nyaman” kemapanan orang-orang dewasa. Custom Culture juga tentang cara berpakaian, bagaimana rambut ditata, hingga musik apa yang didengarkan.

Gina Misiroglu dalam American Countercultures (2009) mengatakan bahwa Custom Culture dapat didefinisikan secara sederhana sebagai  Do It Your Self (DIY), salah satu cara di antara banyak cara lain yang mendorong anak-anak muda Amerika di era pascaperang untuk berpikir di luar arus utama dan mengekspresikan diri mereka secara kreatif. Dalam konteks demikian, bisa dipahami mengapa tikus gila Rat Fink dan karya sejenis muncul dan bisa begitu populer. Bisa dipahami pula mengapa Custom Culture bisa identik dengan subkultur yang berbeda-beda, sebab ia tidak pernah jadi sesuatu yang kaku, malah sebaliknya: sangat fleksibel.

Ketika pertama kali muncul pada 1950-an, Custom Culture identik dengan greaser, subkultur anak-anak muda kelas pekerja, sebagian besar laki-laki, berkulit putih, dan punya minat yang tinggi pada hot rods dan sepeda motor (Jennifer Grayer Moore, Street Style in America: An Exploration, 2017). Karakteristik fisik yang paling penting dari greasers adalah gaya rambut yang menggunakan pomade atau jelly.

Pada 1960-an, Custom Culture jadi lebih identik dengan pembalap drag dan segala atribut yang melekat pada mereka. Sementara pada 1970-an ia identik dengan lowrider, mereka yang mengendarai mobil-mobil ceper yang dilengkapi dengan sistem hidrolik sehingga memungkinkan kendaraan naik turun sesuai keinginan, serta dicat dengan kelir warna warni.

Gaya anak muda di California dan Amerika pada waktu itu perlahan menyebar ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Hingga kini pilihan gaya hidup dalam konteks sebuah kendaraan.

Custom Culture mulai berkembang pesat di Indonesia pada akhir 1980-an sampai awal 1990-an. Ini ditandai dengan semakin banyaknya komunitas otomotif yang, seperti pada awal mulanya di California, AS menyelaraskan kendaraan dan atribut pengendaranya. Dalam periode itu, misalnya, muncul komunitas semacam Bikers Brotherhood MC di Bandung pada 1988, dan MMC Outsiders Nationz, juga lahir di Bandung pada 1988. Ada pula Blind Eagle yang lahir pada 1993 di Jakarta, serta Pemudis asal Surabaya, yang lahir pada 1982.

Meski semua punya ciri khas masing-masing, apa yang jadi benang merah antara klub ini dan Custom Culture adalah semangatnya yang ingin berbeda dengan kebanyakan, yang ingin berada di luar nilai-nilai yang dianut masyarakat. Kata “Outsiders” pada MMC, misalnya, adalah lambang “satu persen” karena 99 persennya adalah masyarakat kebanyakan dan segala nilai yang dianut mereka. “Dipahami saat itu anggota MMC tidak suka aturan yang mengikat dan anti kemapanan” tulis salah satu blog yang membahas kelahiran MMC.

Salah satu tokoh klub ini adalah Isfandiari MD—anak bungsu Mahbub Djunaidi, tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU) dan anggota DPR pasca Pemilu 1955. Isfandiari, lulusan Universitas Padjadjaran yang juga merupakan wartawan otomotif senior, pernah merekam perjalanan MMC dan Custom Culture secara umum melalui buku Outsiders: Kisah Para Penunggang Motor (2014).

Buku ini berkisah soal sejarah klub, perseteruannya dengan klub lain, pengalaman turing, hingga suasana geng motor di Bandung awal 1990-an. “Saya bersyukur bisa membaca buku ini. Saya bisa mendapatkan pengetahuan tentang kehidupankomunitas pecinta dan penunggang motor dengan segala tradisi, bahasa, dan budayanya yang unik,” kata KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), mengomentari isi buku tersebut.

Selain oleh klub-klub motor, inisiatif Custom Culture juga tampil dengan wajah yang lebih “kapitalistik” dengan hadirnya berbagai acara yang mengusung tema tersebut. Dalam acara semacam ini, semangat Kustom Kulture pada mulanya, tidak hanya akan dijumpai komunitas-komunitas yang memamerkan dan mengadu hasil kreasi mereka dalam medium kendaraan, tapi juga mereka yang hidup dan menghidupi Kustom Kulture dalam bentuk lain, semisal seniman tato atau pebisnis apparel.

HISTORIDE @PLATDR 2018

Dari berbagai sumber

Related posts

Leave a Reply


Your email address will not be published. Required fields are marked *